-->
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Peringkat Kota Toleran Kelima Nasional, Wali Kota Bekasi Ajak Umat Kristiani Perkuat Solidaritas di HUT Gereja ke-4

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, saat menghadiri acara perayaan HUT ke-4 Gereja Katolik Santo Stanislaus Kostka, Paroki Kranggan.
JATISAMPURNA – Suasana syukur dan kebersamaan mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun ke-4 Gereja Katolik Santo Stanislaus Kostka, Paroki Kranggan, yang terletak di Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Acara tersebut turut dihadiri oleh Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, pada Minggu (23/8/2026).

Dalam sambutannya, Tri Adhianto menegaskan bahwa kawasan Kranggan dikenal sebagai wilayah dengan kultur keberagaman yang kuat dan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang hidup di tengah warganya. Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar realitas sosial, melainkan fondasi utama dalam memperkokoh nilai-nilai toleransi di Kota Bekasi.

"Toleransi yang kita rasakan saat ini lahir dari kebiasaan dan keberagaman yang sudah lama menyatu di masyarakat. Inilah yang menjadi salah satu pilar kekuatan Kota Bekasi sebagai kota yang menjunjung tinggi kerukunan," tutur Tri di hadapan jemaat dan undangan.

Orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi itu juga menyampaikan kabar membanggakan, yakni prestasi Kota Bekasi yang berhasil menduduki peringkat kelima sebagai kota paling toleran se-Indonesia pada tahun 2025, berdasarkan penilaian dari Setara Institute. Capaian ini, lanjutnya, menjadi motivasi bersama untuk mempertahankan dan bahkan melampauinya di tahun 2026.

"Target kita ke depan, semoga di tahun 2026 nanti, Kota Bekasi mampu meraih posisi yang lebih baik lagi. Tentu saja ini memerlukan sinergi dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat," harapnya.

Tak hanya berbicara tentang toleransi, Tri Adhianto juga mengajak seluruh umat Kristiani yang hadir untuk tidak larut dalam euforia perayaan semata. Ia mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, terutama bagi masyarakat Indonesia yang tengah dilanda musibah.

Ia secara khusus mengajak jemaat untuk mendoakan dan memberikan perhatian bagi para korban bencana di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan. Menurutnya, doa dan perhatian saja tidak cukup, perlu ada aksi nyata yang dapat meringankan beban saudara-saudara yang terdampak.

"Mari kita panjatkan doa untuk saudara-saudara kita yang sedang berduka dan menghadapi bencana. Namun, jangan berhenti di doa, mari wujudkan kepedulian kita melalui bantuan yang nyata," imbaunya.

Lebih lanjut, Tri mengajak masyarakat untuk turut serta dalam penggalangan donasi bagi korban bencana. Ia mengingatkan kembali semangat gotong royong yang pernah ditunjukkan warga Bekasi saat menggalang bantuan untuk masyarakat Aceh. Menurutnya, tindakan tersebut menjadi bukti nyata bahwa Kota Bekasi tidak hanya unggul dalam indeks toleransi, tetapi juga memiliki kepedulian kemanusiaan yang tinggi.

"Semangat kebersamaan dan solidaritas yang pernah kita tunjukkan untuk Aceh harus terus kita hidupkan. Ini adalah bentuk nyata bahwa kita bukan hanya kota yang toleran, tetapi juga kota yang berbagi," pungkasnya.

Tri berharap agar semangat toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial tetap terjaga di Kota Bekasi, sehingga keberagaman bukan menjadi pemisah, melainkan energi besar untuk membangun daerah dan memberi dampak positif bagi masyarakat luas. (arf)