tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Pelayanan di Madinah Harus Diekstra, Timwas Haji DPR Sebut Jemaah Gelombang II Lebih Lelah

Anggota Timwas Haji DPR RI, Muhammad Abdul Aziz.
NASIONAL – Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI meminta agar layanan kedatangan serta pemulangan jemaah haji gelombang II di Madinah dapat dioptimalkan secara maksimal. Permintaan ini disampaikan mengingat kondisi psikis dan fisik jemaah di gelombang kedua yang jauh lebih terkuras usai menuntaskan rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Anggota Timwas Haji DPR RI, Muhammad Abdul Aziz, mengungkapkan bahwa setelah jemaah menyelesaikan Tawaf Ifadah, Tawaf Wada, hingga Umrah, pemerintah wajib memberikan perhatian lebih, terutama dalam memfasilitasi ibadah lanjutan di Madinah.

"Kondisi psikologi dan fisik jemaah haji gelombang kedua ini berbeda dengan gelombang pertama. Saya berharap pemerintah melalui Kementerian Haji dapat memastikan pelayanan dimaksimalkan, utamanya untuk ibadah Arbain dan mempermudah jemaah agar bisa masuk ke Raudah. Itu merupakan cita-cita mereka setelah bertahun-tahun menanti," ujar Abdul Aziz usai menggelar rapat evaluasi bersama Daerah Kerja (Daker) Madinah, Senin (1/6/2026).

Lebih jauh, Timwas Haji DPR RI juga menyoroti aspek mobilitas transportasi. Dengan pergerakan sekitar 99.000 orang atau hampir separuh dari total jemaah haji Indonesia dari Makkah menuju Madinah, Timwas meminta adanya simulasi jadwal (schedule time) yang akurat.

Abdul Aziz menekankan pentingnya skema pergerakan yang terencana guna menghindari penumpukan dan keterlambatan. Pihaknya juga mengingatkan soal ketersediaan kamar hotel yang kerap menjadi kendala rutin saat terjadi transisi antar-jemaah dari berbagai negara.

"Jangan sampai jemaah yang sudah diberangkatkan dari Makkah ke Madinah harus menunggu berjam-jam di lobi karena kamarnya masih ditempati jemaah dari negara lain. Pastikan koordinasi antara Kementerian Agama RI, pihak syarikah, dan hotel berjalan dengan tertib. Keterlambatan ini akan mengganggu rangkaian lainnya, mulai dari konsumsi, akomodasi, hingga pelaksanaan ibadah Arbain," tegasnya.

Di sisi lain, Timwas Haji DPR RI juga memberikan apresiasi atas inovasi Kementerian Haji yang menempatkan jemaah haji di hotel bintang lima yang dekat dengan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Namun, fasilitas premium ini juga memunculkan tantangan baru terkait adaptasi kebiasaan jemaah.

"Ada kendala di mana jemaah tidak diperbolehkan makan di dalam kamar atau di teras hotel bintang lima. Hal ini memerlukan komunikasi intensif dengan pihak hotel terkait kebiasaan konsumsi jemaah kita agar tidak menimbulkan masalah di lapangan," tambahnya.

Sebagai catatan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji secara keseluruhan, Abdul Aziz mengingatkan bahwa pemerintah Indonesia harus lebih gesit dan adaptif terhadap perubahan kebijakan dari Pemerintah Arab Saudi yang kerap melakukan peningkatan sistem (*upgrading*) setiap tahunnya. Ia mencontohkan pembagian kartu pintar Nusuk yang sempat terkendala pada tahun lalu karena dibagikan setelah tiba di Arab Saudi, namun tahun ini sudah berhasil diperbaiki dengan pendistribusian sejak di Tanah Air.

"Pemerintah melalui Kemenag harus sering berkomunikasi dengan Pemerintah Arab Saudi mengenai peningkatan kebijakan untuk tahun depan. Jangan sampai kita gagap dalam merespons dan mengimbangi langkah-langkah kebijakan baru tersebut," tutup Abdul Aziz. (eki/we/jaw)