tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Kawasan Industri Terbesar di Asia Tenggara, Pemkab Bekasi Siapkan SDM Andal Lewat Pendidikan Vokasi yang Link and Match

Plt. Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja.
CIKARANG SELATAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi terus mematangkan langkah-langkah strategis guna mencetak tenaga kerja profesional. Fokus utama saat ini adalah pengembangan sektor pendidikan dan pelatihan vokasi yang dirancang selaras dengan permintaan pasar industri.

Langkah ini dinilai krusial sebagai instrumen untuk menekan laju pengangguran sekaligus memperkuat posisi tawar buruh lokal di tengah derasnya ekspansi kawasan manufaktur. Hal tersebut ditegaskan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, seusai menghadiri gelaran High Level Meeting (HLM) Lintas Kementerian yang bertajuk "Kolaborasi Strategis Sensus Ekonomi 2026, Fondasi Daya Saing Industri Masa Depan". Acara yang diinisiasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat ini berlangsung di Nuanza Hotel & Convention, Cikarang Selatan, pada Selasa (21/07/2026).

Forum prestisius tersebut turut dihadiri oleh Menteri Ketenagakerjaan, Prof. Yassierli, serta Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti.

"Di Kabupaten Bekasi, angka pengangguran masih berada di kisaran delapan persen. Karena itu, penguatan Balai Latihan Kerja (BLK) dan kurikulum vokasi yang aplikatif adalah sebuah keharusan. Kita tidak bisa lagi memberikan pelatihan yang tidak relevan dengan tuntutan pabrik," ujar Asep Surya Atmaja.

Sebagai wilayah yang menyandang predikat kawasan industri terbesar di Asia Tenggara, Bekasi memiliki modal besar untuk menyerap tenaga kerja asli setempat. Namun, Asep menekankan bahwa peluang emas ini harus diiringi dengan peningkatan kualifikasi para pencari kerja agar profil mereka tepat sasaran dengan kebutuhan korporasi yang terus berkembang pesat.

"Jika pelatihan yang diberikan tidak sinkron dengan spesifikasi yang perusahaan cari, maka hasilnya tidak akan efektif. Intinya, kita harus menyelaraskan materi pendidikan vokasi dengan dunia usaha," tambahnya.

Asep menjelaskan bahwa ke depan, Pemkab Bekasi akan mengintensifkan komunikasi antara Dinas Ketenagakerjaan dengan manajemen berbagai kawasan industri. Kerja sama ini bertujuan untuk melakukan pemetaan kebutuhan talenta secara periodik. Dari data tersebut, pemerintah akan merancang program pelatihan yang lebih dinamis dan adaptif terhadap perkembangan sektor usaha dan industri modern.

"Saya berencana mengundang perwakilan dari sebelas kawasan industri untuk duduk bersama dalam satu meja. Kami ingin memetakan secara detail karakteristik tenaga kerja yang mereka butuhkan. Setelah itu, barulah kami susun program vokasi dan pelatihan yang sesuai," tegasnya.

Model kolaborasi ini diyakini mampu menciptakan rantai konektivitas yang kokoh antara institusi pendidikan, pusat pelatihan, dan dunia kerja. Dengan begitu, para lulusan pelatihan tidak akan lagi mengalami gap kompetensi saat terjun ke lapangan pekerjaan.

"Generasi muda kita harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Jangan sampai ketika perusahaan membuka lowongan, kompetensi anak-anak kita tidak memenuhi kualifikasi. Vokasi harus berperan sebagai jembatan penghubung antara kebutuhan sektor industri dan kesiapan tenaga kerja lokal," paparnya.

Asep mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan diskusi mendalam dengan Menteri Ketenagakerjaan terkait penguatan ekosistem vokasi di wilayahnya. Mengingat Bekasi merupakan salah satu tulang punggung industri nasional, dukungan dari pemerintah pusat menjadi katalis penting untuk memperluas akses pelatihan yang berbasis teknologi dan selaras dengan kebutuhan manufaktur kekinian.

"Kami telah menyampaikan usulan kepada Pak Menteri agar penguatan vokasi di Kabupaten Bekasi menjadi prioritas nasional. Mengingat di sini terdapat perusahaan-perusahaan skala besar di Indonesia, maka harus didukung oleh sumber daya manusia yang benar-benar siap pakai," ungkapnya.

Lebih dari sekadar meningkatkan kompetensi, sinergi antara pemerintah daerah dan korporasi ini diharapkan mampu membuka pintu penyerapan tenaga kerja lokal secara lebih luas. Asep optimistis, dengan ribuan perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Bekasi, kolaborasi ini akan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.

"Kami ingin jalinan kemitraan antara pemerintah daerah dan perusahaan semakin solid. Apa yang menjadi kebutuhan industri, itulah yang akan kami sediakan melalui jalur pendidikan dan pelatihan. Dengan demikian, masyarakat Bekasi akan memiliki akses yang lebih besar terhadap kesempatan kerja," tutupnya. (jaw)